Peta Wilayah
Siteplan
Profil KTM
Direktori
Ragam Bisnis
 

  PROFIL WILAYAH KTM MANDASTANA

I. Gambaran Umum Kawasan

Kawasan Kota Terpadu Mandiri (KTM) Mandastana secara administratif termasuk ke dalam wilayah Kabupaten Barito Kuala Propinsi Kalimantan Selatan. Luas kawasan 52.150 Ha yang terbagi kedalam 5 SKP (dengan Pusat SKP di Jejangkit Pasar, Tabing Rimbah, Karang Bunga, Danda Jaya, dan Sungai Gampa) dan secara administratif meliputi kedalam 6 Kecamatan (Rantau Badauh 14.000 ha 10 desa, Belawang 4.075 ha 6 desa, Mandastana 9.325 ha 14 desa, Jejangkit 13.575 ha 10 desa, Barambai 1.975 ha 1 desa dan Cerbon 9.200 ha 6 desa. Jumlah desa dikawasan ada 45 desa). UPT masih dibina : 5 UPT ( Simpang Arja, sampurna/Cayaha Baru, Bahandang SP 1,2, Simpang Nungki ).

Secara geografis berada pada posisi 2o29\'50\" s/d 3o30\'18\" LS dan 114o20\'50\" s/d 114o50\'18\" BT, dengan batas-batas administratif sebagai berikut :

Sebelah Utara : Kecamatan Marabahan
Sebelah Selatan : Kabupaten Banjar
Sebelah Timur : Kecamatan Simpang Tiga
Sebelah Barat : Propinsi Kalimantan Tengah

Dasar Hukum : Nomor : 27 Tahun 1959 tentang Pembentukan Daerah Tingkat II


II. Pencapaian Lokasi
Route pencapaian ke kawasan KTM Mandastana dapat ditempuh melalui jalur ibu kota provinsi (Banjarmasin) atau ibu kota kabupaten (Marabahan) dengan route dibawah ini :
Dari Ke Jarak (Km) Waktu (menit) Sarana Prasarana
BANJARMASIN
(Ibukotta Prop. Kalimantan Selatan)
PPE TRANS 15,00 60 Darat Mobil
Rantau Badauh (Sei Gampa) 28,50 90 Darat Mobil
Mandastana (Puntik Luar) 17,50 75 Darat Mobil
Belawang (Murung Kramat) 27,00 100 Darat Mobil
Jejangkit (Jejangkit Pasar) 28,50 120 Darat Mobil
Cerbon (Sungai Tunjang) 34,00 120 Darat Mobil
Barambai (Tanjung Keramat) 28,00 align=center>100 Darat Mobil
MARABAHAN
(Ibukota Kab. Barito Kuala)
PPE TRANS 25,00 90 Darat Mobil
Rantau Badauh (Sei Gampa) 11,5 60> Darat Mobil
Mandastana (Puntik Luar) 31,5 100 Darat Mobil
Belawang (Murung Kramat) 32,50 140 Darat Mobil
Jejangkit (Jejangkit Pasar) 34,00 150 Darat Mobil
Cerbon (Sungai Tunjang) 12,00 60 Darat Mobil
Barambai (Tanjung Keramat) 21.5 90 Darat Mobil

Sumber : Hasil Identifikasi lapangan, 2006

III. Kesesuaian Lahan

a. Iklim
Rata-rata curah hujan bulanan dikawasan ini sebesar 208 mm/bulan dan curah hujan terrendah 2 mm/bulan dapat terjadi pada bulan Agustus dan tertinggi dapat terjadi pada bulan Januari sejumlah 696 mm/bulan.
b. Topografi
Sebagian besar wilayah Kawasan KTM Mandastana merupakan daerah dataran rendah yaitu berada pada ketinggian 0,2 s/d 3,0 M dpl. Wilayah ini merupakan pengembangan budidaya yang potensial untuk tanaman semusim (Padi dan Palawija) dan hortikultura seperti Jeruk, Rambutan dan lain-lain.
c. Kemiringan Lahan.
Kawasan ini mempunyai bentuk topografi yang datar, sehingga dapat disimpulkan tingkat kemiringan lahan adalah < 2 %.
d. Jenis Tanah
Jenis tanah secara umum terdiri dari dua jenis yaitu Jenis Alluvial dan Organosol Glei Humus, dimana Alluvial sebagian besar telah dimanfaatkan untuk budidaya dan Organosol Glei Humus yang sebagian merupakan daerah yang tergenang terus-menerus. Jenis tanah Alluvial tersebar di semua kecamatan, sedangkan jenis tanah Organosol Glei Humus terdapat di Kecamatan Mandastana, Jejangkit dan Cerbon. Rincian jenis tanah dapat dilihat pada Tabel dibawah ini :
No Nama Kecamatan Jenis Tanah (Ha)
Alluvial Organosol Glei Humus
1 Rantau Badauh 14.000 -
2 Belawang 4.075 -
3 Mandastana 5.642 3.683
4 Jejangkit 5.160 8.415
5 Barambai 1.975 -
6 Cerbon 3.497 5.703

e. Hidrologi.
Kawasan ini dialiri oleh beberapa sungai antara lain Sungai Barito, Sungai Negara, Sungai Alalak, dan Anjir-anjir. Sungai tersebut selain sebagai pengairan persawahan juga difungsikan sebagai prasarana transportasi. Potensi hidrologi di Kawasan KTM Mandastana dipengaruhi oleh adanya Sungai Barito, Sungai Negara dan Sungai Alalak sehingga kawasan ini merupakan daerah yang sering dilanda banjir terutama pada musim hujan.
f. Penggunaan Lahan
Penggunaan lahan di Kawasan KTM Mandastana terdiri dari permukiman, persawahan, tegalan/pertanian lahan kering, kebun campuran, perkebunan, hutan, danau/rawa, dan alang-alang. Distribusi Penggunaan Lahan perkecamatan :
No Jenis Penggunaan Lahan Jumlah (Ha) Nama Kecamatan (Ha)
Rantau Badauh Belawang Mandastana Jejangkit Barambai Cerbon
1. 4.610 900 175 1,025 1,425 285 800
2. Hutan lahan basah 8.660 3,000 475 1,250 1,625 210 2,100
3. Hutan Lahan Kering 10.810 2,875 575 1,550 2,625 510 2,675
5. Persawahan 25.935 6,350 2,850 5,500 6,850 760 3,625
6. Ladang 2.135 875 - - 1,050 210 -
Total Penggunaan Lahan 52.150 14,000 4,075 9,325 13,575 1,975 9,200>

IV Kondisi Sosial Ekonomi

a. Kependudukan
Jumlah penduduk di Kawasan ini berjumlah 12.203 KK atau 45.063 jiwa yang tersebar pada 6 kecamatan, yaitu : Kecamatan Rantau Badauh 3.134 KK atau 11.941 jiwa, Kecamatan Belawang 2.941 KK atau 10.895 jiwa, Kecamatan Mandastana 3.744 KK atau 12.941 jiwa, Kecamatan Jejangkit 1.096 KK atau 4.41 jiwa, Kecamatan Barambai 253 KK atau 936 jiwa, Kecamatan Cerbon 1.035 KK atau 3.933 jiwa. Bila dilihat dari tingkat kepadatan penduduk maka tingkat kepadatan penduduk adalah 0,87 Jiwa / Ha dan tingkat pertumbuhan di kabupaten Barito Kuala sebesar 1,60 % pertahun.
b. Adat Istiadat
Pada umumnya dikawasan ini mayoritas adalah suku Dayak Banjar dan beragama Islam, serta mempunyai orientasi bahwa hidup harus diperbaiki. Pada umumnya suku Dayak mempunyai sifat yang kuat pada ketergantungan kekuatan alam. Pola prilaku mereka lebih cederung berorientasi sebatas untuk mempertahankan hidup hari ini. Proses asimilasi pada dasarnya telah terjadi, mengingat kawasan ini merupakan kawasan yang terbuka bagi pendatang baru.
c. Mata Pencaharian
Pada umunya mata pencaharian penduduk di sektor pertanian tanaman pangan kemudian disusul sektor industri pengolahan dan paling kecil bergerak di sektor peternakan. (merupakan data tahun 2005).
  • Sektor Pertanian :
  • Sektor Peternakan :
    Jenis ternak yang dipelihara penduduk dikawasan ini meliputi ternak besar dan kecil. Ternak besar yaitu Sapi sedangkan jenis ternak kecil adalah Kambing, dan Unggas. Jumlah ternak sapi sejumlah 137 ekor, Kambing 6.605 ekor, Ayam buras 81.936 ekor, Ayam Ras 1.327 ekor, dan Itik 1.668 ekor.
  • Sektor Perikanan :
    Sektor perikanan di Kabupaten Barito Kuala meliputi perikanan laut dan perikanan darat. Namun di kawasan KTM Mandastana hanya perikanan darat saja, khususnya dari sungai-sungai, saluran atau areal persawahan. Jenis ikan yang paling banyak adalah ikan Jambal, Gabus, Lais, Belida, dan Udang Galah, sedangkan yang banyak diperoleh dari areal persawahan adalah ikan Papuyuh.

V. Sarana Prasarana Permukiman

a. Fasilitas Peribadatan
Dikawasan ini mayoritas beragama Islam, fasilitas peribadatan yang tersedia adalah 61 masjid dan 124 mushola.
b. Fasilitas dan Tingkat Pendidikan
Jumlah prasarana pendidikan berdasarkan tingkat pendidikan di Kawasan KTM Mandastana sampai dengan tahun 2004 adalah TK 9 unit, SD 60 unit, SLTP 9 unit, SLTA 2 unit Madrasah 9 unit.
c. Fasilitas Kesehatan
Secara rinci jumlah prasarana dan sarana kesehatan yang terdapat di Kawasan KTM Mandastana adalah Puskesmas 4 unit, Pustu 15 unit, Klinik 1 unit dan tenaga medis adalah dokter umum 9 orang, dokter gigi 4 orang, perawat 6 orang dan bidan 54 orang.
d. Fasilitas Perekonomian
Pelayanan perekonomian yang ada di Kawasan KTM Mandastana terdiri dari Pertokoan, Pasar, rumah makan/ restoran, passar hewan, Bank, Telekomunikasi dan lain-lain. Ketersediaan fasilitas perekonomian adalah pasar harian 8 unit, Bank 2 unit, Wartel 1 unit, warung/toko 41 unit, toko pupuk 3 unit dan bengkel 1 unit.
e. Transportasi :
Transportasi Air :
Kawasan Mandastana telah dibangun saluran drainase/handil yang berfungsi untuk mengatur tata air di kawasan lahan basah, serta saluran berfungsi sebagai sarana transportasi air dari daerah yang belum terjangkau jalan darat.
Jalan Darat :
Di Kawasan KTM Mandastana telah dibangun jembatan rangka baja ( S. Rumpiang ) yang terletak di Kecamatan Cerbon yang menghubungkan kota Marabahan dengan Kota Banjarmasin. Di Kawasan ini telah dibangun jalan aspal sepanjang 55 Km dan jalan tanah yang menghubungkan antara pusat kecamatan dengan desa-desa sekitarnya, sedangkan jalan poros/penghubung ke UPT pada umumnya masih merupakan jalan tanah, mengingat statusnya masih dalam pembinaan apabila akan diserahkan maka akan dilakukan upaya peningkatan jalan menuju UPT.

VI. Potensi Wilayah

Berdasarkan hasil analisis terhadap keragaan produksi dan nilai produksi terhadap 15 komoditi potensial yang dikembangkan di KTM Mandastana, maka terdapat 6 jenis komuditas unggulan yaitu rangking ke 1 sampai dengan rangking ke 6. Jenis unggulan tersebut adalah komoditas jeruk, padi, jagung, kacang tanah, ubi kayu dan Nenas. Pemilihan komoditas ini juga disesuaikan dengan tingkat kesesuaian lahan, sosial budaya masyarakat dan kondisi eksisting yang ada dilapangan. ( Sumber : Hasil Analisis Tim KTM Mandastana dan Data Dinas Pertanian Kab. Barito Kuala, 2006)

Dari komuditas unggulan 1 dan 2 yakni Jeruk dan Padi menjadikan Kawasan ini merupakan salah satu lumbung padi di Kabupaten Barito Kuala dengan surplus 38.716 ton pada tahun 2005. Pengembangan kedua jenis komoditas tersebut disebabkan pada kawasan ini terdapat kawasan agropolitan dengan komoditas padi-jeruk. Jeruk, selain memiliki nilai ekonomis yang tinggi juga mampu diolah menjadi berbagai macam produk turunan.

Tabel Analisa Keuntungan Pertahun Dari Tiap Model Usaha dengan Bunga 14 %

No. MODEL Total Biaya (Rp) Total Penerimaan (Rp)> Keuntungan Bersih 6 Tahun Keuntungan Bersih Per- Tahun>
1 Monokultur Jeruk 1 Ha = 450 Pohon 118.775.010 179.992.969 61.217.959 10.202.993
2 Monokultur Padi 1 Ha 31.538.492 40.635.000 9.096.508 1.516.085
3 Tumpangsari Jeruk 0,2 Ha = 175 Pohon dan Padi 0,8 Ha 48.381.670 102.505.266 54.123.595 9.020.599

Sumber : Hasil Analisis Tim KTM Mandastana dan Data Dinas Pertanian Kab. Barito Kuala, 2006.


Dari hasil perhitungan Modal dan Pendapatan dengan tingkat suku bunga 14 %, maka dapat diperkirakan bahwa pendapatan bersih dari Model Usaha Tani Jeruk yang ditanam secara monokultur adalah sebesar Rp 10.202.993 , Padi adalah sebesar Rp 1.516.085 dan Tumpang Sari Padi-Jeruk adalah sebesar Rp 9.020.599. Maka kesimpulannya penanaman dengan system tumpangsari jeruk-padi lebih menguntungkan bila dibandingkan dengan jeruk dan padi secara monokultur.

Rencana Kemitraan Usaha : Untuk dapat memberdayakan SDM dan lahan serta dapat terwujudnya suatu usaha agribisnis akan dilakukan kemitraan usaha antara petani dengan investor atau perbankkan dengan dukungan dan bimbingan teknis dari pemerintah daerah melalui instansi terkait.

Masterplan Kawasan Mandastana Kabupaten Barito Kuala pada tahap awal ini mencakup 12 Dinas terkait yang mengusulkan melalui dana APBN dan APBD terkait selama lima tahun, meliputi kegiatan fisik sarana prasarana, pemberdayaan masyarakat dengan pertanian terpadu (Jeruk & padi ), bantuan kelembagaan melalui pelatihan petani jeruk & padi seca ra sharring program

VI. Potensi Bisnis

Dari data potensi lahan yang disampaikan diatas, meliputi usaha bidang pertanian tanaman pangan, hortikultura, perikanan dan peternakan dapat anda cermati untuk pilihan anda. Selain itu kegiatan lain yang mungkin dapat anda manfaatkan diantaranya sektor industri pengolahan jeruk, sektor pemasaran produksi hasil pertanian dan pengadaan bibit jeruk dan transportasi barang. Bagi yang berminat silahkan menghubungi instansi Dinas Tenagakerja dan Transmigrasi setempat untuk mendapatkan petunjuk lebih lanjut dan peluang yang dapat difasilitasi oleh pemerintah untuk anda.